Berakar dalam Iman, Bertumbuh dalam Perjumpaan: Menghidupi Dialog ala Panikkar

Senin, 02 Maret 2026 14:23 Wita.

Dialog antaragama pada dasarnya lahir dari kerinduan untuk saling memahami. Namun dalam praktiknya, tidak jarang dialog berubah menjadi ajang debat yang kaku dan kompetitif. Alih-alih menjadi ruang perjumpaan, forum-forum diskusi terkadang menjelma menjadi panggung pembuktian siapa yang paling benar. Argumen-argumen teologis dipertajam, ayat-ayat dikutip untuk menguatkan posisi, dan semangat untuk mendengar perlahan tergeser oleh hasrat untuk memenangkan perdebatan. Ketika dialog kehilangan dimensi empati dan kerendahan hati, ia mudah berubah menjadi kompetisi intelektual yang justru memperlebar jarak antar-iman.

Dalam konteks inilah pemikiran Raymundo Panikkar–seorang Imam, Filsuf dan Teolog Katolik di bidang Studi Perbandingan Agama–menjadi relevan dan menantang. Panikkar mengkritik model dialog yang semata-mata berorientasi pada perbandingan doktrin atau pembelaan identitas. Baginya, dialog bukanlah arena apologetika, melainkan perjumpaan eksistensial. Ia memperkenalkan gagasan tentang dialog intrareligius atau intra-agama, yaitu dialog yang tidak hanya terjadi antara dua orang dari agama berbeda, tetapi juga berlangsung di dalam diri seseorang ketika ia sungguh-sungguh membuka diri terhadap pengalaman religius yang lain. Dalam perjumpaan itu, seseorang bukan hanya mendengar pandangan orang lain, tetapi juga merefleksikan kembali kedalaman imannya sendiri.

Panikkar melihat bahwa ketakutan terhadap agama lain sering kali berakar pada ketidaktahuan. Orang merasa terancam oleh sesuatu yang belum dipahaminya. Ketika jarak sosial dan kultural dibiarkan tanpa jembatan perjumpaan, prasangka tumbuh subur. Agama lain direduksi menjadi stereotip, dan perbedaan dipersepsikan sebagai ancaman. Dialog yang sejati justru berfungsi membongkar ketakutan ini. Melalui perjumpaan yang tulus, seseorang mulai menyadari bahwa di balik perbedaan doktrin dan ritual, terdapat pencarian yang sama akan makna hidup, kebenaran, dan kedamaian.

Konsep dialog intra-agama menekankan bahwa setiap perjumpaan dengan yang berbeda seharusnya menggugah refleksi batin. Ketika seorang beriman mendengarkan pengalaman religius orang lain, ia didorong untuk bertanya pada dirinya sendiri: sejauh mana aku sungguh menghayati imanku? Apa yang membuatku yakin? Apakah keyakinanku lahir dari kedalaman refleksi atau sekadar warisan tanpa penghayatan? Dengan demikian, dialog tidak melemahkan iman, melainkan memurnikannya. Ia menjadi proses pendewasaan spiritual.

Pengalaman bergaul dengan orang yang berbeda agama juga membentuk karakter yang inklusif. Inklusivitas bukan berarti mencampuradukkan keyakinan atau menganggap semua perbedaan tidak penting. Sebaliknya, ia adalah kemampuan untuk berdiri teguh pada iman sendiri sambil tetap menghormati keyakinan orang lain. Seseorang yang terbiasa berdialog akan lebih terlatih untuk mendengar sebelum menghakimi, memahami sebelum menilai, dan mencari titik temu tanpa menafikan perbedaan. Sikap ini menumbuhkan empati dan menekan kecenderungan egoisme dalam kehidupan sosial.

Belajar memahami kepercayaan orang lain bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap iman sendiri. Justru dengan mengenal yang berbeda, seseorang memperkaya wawasannya tentang kemanusiaan. Ia menyadari bahwa kehidupan bermasyarakat yang majemuk menuntut kedewasaan dalam bersikap. Tanpa keterbukaan, ruang publik mudah dikuasai oleh kecurigaan dan sikap eksklusif. Dialog intra-agama membantu seseorang mengembangkan kepribadian yang tidak mudah terprovokasi oleh narasi kebencian dan tidak tergesa-gesa menutup diri terhadap perbedaan.

Pada akhirnya, refleksi atas gagasan Panikkar mengingatkan bahwa dialog sejati menuntut keberanian untuk berubah. Ia bukan sekadar aktivitas berbicara, tetapi perjalanan batin yang membentuk karakter. Ketika dialog tidak lagi dipahami sebagai debat untuk menang, melainkan sebagai perjumpaan untuk bertumbuh, maka kehidupan beragama menemukan wajahnya yang dewasa. Di tengah dunia yang plural dan rentan konflik, semangat dialog intra-agama menjadi jalan untuk membangun masyarakat yang lebih inklusif, rendah hati, dan berakar pada penghormatan terhadap martabat setiap manusia.


Oleh: Ariandy Engelhard Katanggung, S.Pd
(Penyuluh Agama Kristen Kantor Kementerian Agama Kota Bitung)

     

Opini Lainnya
Array