Kanwil Kemenag Sulut Aplikasi
Senin, 10 Agustus 2020

Jadi Khatib Idul Adha, Ahmad Sholeh Ajak Jamaah Teladani Keluarga Nabi Ibrahim

1 August 2020


BOLTIM - Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, H. Ahmad Sholeh M.Pd jadi Khatib pada pelaksanaan Shalat Idul Adha 1441 Hijriyah di Masjid As-Salsabil Kotobangon, Kotamobagu, Jum'at (31/07).

Mengawali Khutbahnya Kakankemenag Ahmad Sholeh mengatakan hari raya Idul Adha selalu saja menjadi rekontruksi sejarah masa lampau. Sejarah kehidupan figur-figur agung para kekasih Allah SWT, yaitu figur Nabiyullah Ibrahim AS, figur sang anak hebat Nabi Ismail AS, dan figur sang ibu luar biasa Siti Hajar. Prosesi yang mengharubiru sejarah umat manusia adalah penyembelihan Nabiyullah Ibrahim AS pada putra tercintanya Nabi Ismail AS yang akhirnya diganti dengan qibas (kambing) oleh Allah SWT.

Ahmad Sholeh juga mengatakan ada beberapa hal yang dapat kita petik dalam sirah dan kehidupan agung Nabi Ibrahim AS dan keluarganya.

“Pelajaran pertama adalah pertanyaan Allah SWT pada Nabi Ibrahim, faaina tadzhabun?. Ketika Nabi Ibrahim yang dikenal kaya raya dengan seribu ekor domba, tiga ratus ekor lembu, dan seratus ekor unta, beliau ditanya, “Hendak kemana kamu pergi”. Maka beliau menjawab, “Inni dzahibun ila rabbi sayahdin” (QS. At-Takwir: 26). Artinya: “Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan dia memberi petunjuk padaku”.

“Bagi Ibrahim, tujuan akhir hidup manusia bukan kekayaan, bukan pangkat, bukan jabatan dan sebagainya, tetapi tujuan hidup kita adalah Allah SWT. Pertanyaan Allah SWT pada Nabi Ibrahim adalah pertanyaan moral yang penuh makna. Hendak dibawa kemana harta kita? Hendak dibawa kemana jabatan kita? Hendak dibawa kemana pangkat kita? Hendak dibawa kemana ilmu kita? Hendak dibawa kemana tubuh kita?. Di tengah kesibukan manusia dengan berbagai aktivitasnya, maka menjadi penting untuk menanyakan kembali pertanyaan Ibrahim AS kepada diri kita masing-masing. Karena bisa jadi, yang primer bagi manusia secara faktual dewasa ini adalah menghindari apapun yang menyakitkan. Lalu juga mengejar apapun yang dirasakan menyenangkan. Sehingga yang muncul hanyalah kehidupan materi duniawi belaka,” jelas Ahmad.

Lebih lanjut kata Ahmad, Didikan Nabi Ibrahim AS terhadap putranya Ismail telah berhasil menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan memberi manfaat bagi orang banyak, sekaligus menjalankan fungsinya sebagai khalifatullah fi al-ardh. Keberhasilan didikan Nabi Ibrahim tentunya tidak lepas dari ikhtiyar dan do’a. Ikhtiyar dan usahanya dengan berbagai macam cobaan hidup dan ujian yang tak habis-habisnya. Namun Nabi Ibrahim pun tidak ada henti-hentinya selalu berdo’a dan bermunajat kepada Allah, hingga akhirnya lulus dari ujian-ujian tersebut. Sebagai hadiah dari Allah, banyak permintaan-permintaan Nabi Ibrahim yang dikabulkan, diantaranya anak cucunya dijadikan pemimpin orang-orang yang bertaqwa, sebut Ahmad. (gan)


Aplikasi