Senin, 01 Desember. 2,149 x dibaca
MITRA (Kemenag) -- Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sulawesi Utara melaksanakan kegiatan Tatap Muka dan Dialog bersama Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara dan masyarakat Watuliney–Molompar pada Senin, 1 Desember 2025. Kegiatan yang berlangsung di Gereja GMIM Silo Watuliney ini digelar sebagai tindak lanjut respons pemerintah atas situasi sosial yang terjadi serta upaya memperkuat stabilitas, kerukunan, dan pemulihan masyarakat. Kegiatan ini dibuka dengan Do'a Pembukaan dari Kementerian Agama oleh Penyuluh Agama Kristen, Ningsi Megasyari Paparang.
Kementerian Agama Kabupaten Minahasa Tenggara turut hadir melalui Kepala Seksi Pendidikan dan Bimas Islam, Hj. Deyske R. Sangia, S.H., M.H., didampingi staf, serta perwakilan Penyuluh Agama Islam — Zulkarnain Makatutu dan Widiya Nurdin, serta Penyuluh Agama Kristen — Ningsih Megasyari Paparang, Alvi Punusingon, dan Christine Deysi Agu.
Dialog berlangsung dengan kehadiran tokoh-tokoh penting, antara lain Wakil Gubernur Sulut Dr. J. Victor Mailangkay, S.H., M.H. yang mewakili Gubernur, Kapolda Sulut Irjen Pol Royke Harry Langie, Wakapolda Brigjen Pol Awi Setiyono, S.I.K., M.Hum., Bupati Minahasa Tenggara Ronal Kandoli, Wakil Bupati Fredy Tuda, Ketua DPRD Sophia Antou, Dandim 1302 Letkol Inf Bona Ventura Ageng Fajar Santoso, Danrem Brigjen TNI Martin Susilo Martopo Rusnip, S.H., M.H., Kapolres AKBP Handoko Sanjaya, S.I.K., M.Han., serta unsur pemerintah kecamatan, desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat.
Dalam arahannya, Wakil Gubernur menegaskan pentingnya nilai kasih dan persaudaraan sebagai dasar kehidupan bermasyarakat. “Perintah utama dalam Alkitab adalah mengasihi sesama. Dalam Islam dikenal sebagai hablum minallah dan hablum minannas — hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan manusia — yang diwujudkan melalui amal saleh. Karena itu marilah kita saling mengasihi, karena torang samua basudara,” ungkapnya.
Kapolda Sulut menambahkan bahwa perbedaan merupakan keindahan yang harus dijaga, bukan alasan untuk berpecah. “Singkirkan hal-hal yang dapat memicu perpecahan. TNI–Polri bertugas menjaga keselamatan warga negara, namun masyarakat juga harus terlibat menjaga keamanan. Tokoh agama dan tokoh masyarakat harus menjadi penyejuk, bukan menyampaikan hal-hal yang memprovokasi,” tegasnya.
Kapolda juga mengingatkan pentingnya keamanan digital (digital security) bagi masyarakat. “Bijaklah dalam menggunakan media sosial agar tidak memancing provokasi. Kasus ini akan diusut tuntas, dan kami tegaskan bahwa persoalan ini adalah kriminal murni, tidak ada unsur SARA,” ujarnya mengacu pada ketentuan Undang-Undang ITE (UU No. 11 Tahun 2008 dan perubahannya).
Kepala Seksi Pendidikan dan Bimas Islam, Hj. Deyske R. Sangia, S.H., M.H., dalam penyampaiannya menekankan tiga poin utama sebagai kontribusi Kemenag Mitra dalam pemulihan sosial masyarakat Watuliney–Molompar. Pertama, kegiatan pemulihan harus melibatkan para pemuda melalui aktivitas-aktivitas positif yang membangun nilai kebersamaan. Kedua, kegiatan positif tersebut harus disosialisasikan kepada masyarakat melalui organisasi kemasyarakatan agar dampaknya lebih luas dan terarah. Ketiga, Kemenag Mitra telah membentuk tim penyuluh lintas agama Islam dan Kristen untuk melakukan penyuluhan dengan pendekatan persuasif. “Kami bergerak menyapa masyarakat, memberikan pemahaman, dan menguatkan nilai kerukunan agar pemulihan dapat berjalan efektif,” jelasnya.
Dialog Forkopimda Sulut ini menjadi momentum penting bagi konsolidasi pemerintah, aparat keamanan, tokoh agama, dan masyarakat. Kehadiran Kementerian Agama Mitra melalui penyuluh lintas agama mempertegas komitmen penguatan moderasi beragama dan pemeliharaan harmoni di tengah masyarakat. Kegiatan ditutup dengan ajakan bersama untuk menjaga perdamaian, bijak bermedia sosial, meningkatkan kepedulian antarwarga, serta memperkuat koordinasi lintas sektor demi terwujudnya Kabupaten Minahasa Tenggara yang aman, rukun, dan kondusif.
Humas