Dalam ajaran Islam ibadah adalah menyembah kepada Allah SWT. Manifestasinya adalah merendahkan, mendekatkan diri, mencitai…" />
Manifestasi Kesalehan Individu dan Sosial dalam Ibadah Puasa - Syiar Ramadhan ke-19 1444 H

Senin, 10 April 2023. 406 x dibaca

Dalam ajaran Islam ibadah adalah menyembah kepada Allah SWT. Manifestasinya adalah merendahkan, mendekatkan diri, mencitai Allah dalam keadaan apapun dan bagaimanapun. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh aspek yang berhubungan dengan Sang Khaliq baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang bathin. Al-Qur’an surat Adz-Dzaariyaat (51) : 56 menyebutkan bahwa “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. Spirit penciptaan jin dan manusia adalah agar mereka melaksanakan ibadah hanya kepada Allah. Bentuk dan jenis ibadah ada empat klasifikasi yaitu Ibadah Qolbiyyah adalah ibadah dilakukan ibadah hati, meliputi aspek i’tiqod. Berikutnya adalah Ibadah Qowliyyah Ibadah ini dilakukan oleh aktivitas lisan, seperti membaca alquran dll. Selanjutnya adalah Ibadah Amaliyyah yaitu ibadah yang dilakukan oleh anggota tubuh, seperti gerakan dalam shalat. Selanjutnya Ibadah Maaliyyah, Ibadah dengan mendermakan hartanya.

Ada ulama yang membagi Ibadah menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf (takut), raja’ (mengharap), mahabbah (cinta), tawakkal (ketergantungan), raghbah (senang), dan rahbah (takut) adalah ibadah qalbiyah (yang berkaitan dengan hati). Pada prinsipnya ibadah dikategorikan dalam dua macam. Ibadah yang berhubungan langsung dengan Sang Khaliq, yang ouputnya meningkatkan keshalehan individu dan ibadah yang berhubungan dengan sesama manusia yang outputnya adalah keshalehan sosial. Keshalehan individu adalah penghambaan totalitas Allah SWT. Keshalehan sosial adalah penghambaan kepada Allah melalui perantaraan kemanusiaan. Sedangkan, Ibadah mahdhah berhubungan langsung dengan Allah, ouputnya shaleh secara individu. Ibadah mu’amalah taat kepada Allah melalui kepedulian sesama manusia, outputnya adalah shaleh secara sosial. Namun dalam praktek, tidak dapat dipisahkan kedua bentuk ibadah tersebut.

Ritual shalat termasuk ibadah mahdhah, dimulai dari takbir hingga di akhiri dengan salam. Dalam praktek ibadah puasa, memberi buka puasa kepada orang lain nilainya sama dengan mereka yang berpuasa, ini artinya ibadah puasa memiliki dimensi muamalat. Ibadah puasa berhubungan langsung dengan Allah, menahan makan, minum dan seks antar suami istri pada siang hari Ramadhan adalah bentuk ketaatan kepada Sang Khalik. Jika memiliki udzur, maka dapat digantikan ibadah fidyah yang pahalanya setara dengan ibadah puasa, outputnya tidak saja ibadah mahdhah melainkan keshalehan sosial. Dimensi ibadah muamalah yang bersentuhan langsung dengan ibadah puasa adalah mengeluarkan zakat fitrah sebagai penyempurnaan dari ibadah puasa, zakat fitrah adalah ibadah muamalah yang ikut dan turut menentukan kualitas kesempurnaan ibadah puasa. Saling membantu satu dengan yang lain tidak termasuk jenis ibadah mahdhah, namun berupa amal kebaikan yang nilainya ikut mempengaruhi dan menentukan kualitas ibadah mahdhah. Ibadah puasa pada hakekatnya membentuk keshalehan individu dan sekaligus keshalehan sosial. Keduanya mempunyai tujuan yang sama, yakni mencari keridhaan Allah.

Nabi Muhammad saw pernah menyampaikan hipotesa kualitas ibadah puasa dalam sebuah haditsnya, “Rubba shoimin laisa lahu min shiyamihi illal ju’a wal a’thsya (HR. Ibnu Majah)”. Banyak orang menjalankan ibadah puasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga karena muamalahnya tidak baik. Beragama sesungguhnya bukan hanya mengejar keshalehan individu, tetapi dibuktikan dengan kehidupan sosial dan bermasyarakat. Fakta beragama atau keimanan seperti ini menunjukkan bahwa dimensi sosial menjadi faktor determinan dalam membentuk kesempurnaan dan kualitas keimanan kualitas ibadah seseorang kepada Sang Khaliq.

Ajaran Islam secara menyeluruh mendambakan umatnya berperilaku yang baik dan memberi manfaat yang besar untuk kehidupan bersama dan sosial. Suatu saat Nabi Muhammad saw pernah memberi contoh berkaitan dengan kedermawanan di bulan suci Ramadhan. "Barang siapa memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang yang berpuasa ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikit pun mengurangi pahalanya (HR. At-Titmidzi). Ibadah puasa adalah manifestasi dari keshalehan individu dan keshalehan sosial untuk meraih derajat terbaik di hadapan Allah SWT. 

H. Sarbin Sehe (Kakanwil Kemenag Sulut)


Baca Juga
Array